Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Blok M Bergoyang (Bukan Dangdut): Ketika 'Pusaka' WNA Bikin Geger Jakarta Selatan!

Jakarta Selatan itu biasanya viral karena kopinya yang mahal, bahasa "Jaksel-nya" yang ribet, atau macetnya yang bikin istighfar. Tapi baru-baru ini, kawasan Blok M—pusat nongkrong hits para anak senja dan pecinta vinyl—mendadak heboh bukan karena rilis album baru, melainkan karena aksi "pertunjukan gratis" yang sama sekali tidak diminta.

Ya, seorang Warga Negara Asing (WNA) diduga nekat memamerkan "alat perjuangannya" di depan umum. Sontak saja, netizen heboh, warga melongo, dan Pramono Anung pun angkat bicara dengan nada yang tidak main-main: Hukum berat!

Mari kita bedah kejadian yang bikin geleng-geleng kepala ini dengan kacamata yang agak sedikit jenaka, tapi tetap menjunjung tinggi norma kesopanan (dan pakaian).


Kronologi: Niatnya Cari Ramen, Malah Ketemu 'Burung'


Lihat Videonya Klik Di Sini

Bayangkan Anda sedang jalan kaki santai di trotoar Blok M. Di kiri ada aroma gyoza yang menggoda, di kanan ada toko kaset tua yang estetik. Tiba-tiba, seorang bule lewat dan—surprise!—dia memutuskan untuk melakukan unboxing yang paling tidak berfaedah sepanjang sejarah umat manusia.

Berdasarkan video yang viral (dan untungnya sudah banyak disensor, terima kasih tim editor!), WNA tersebut dengan santainya memamerkan apa yang seharusnya disimpan rapat-rapat di balik kain. Tidak jelas apa motivasinya. Apakah dia kepanasan dengan suhu Jakarta yang mencapai 34 derajat? Ataukah dia mengira Blok M adalah pantai di Ibiza?

Warga sekitar yang melihat bukannya terpesona, malah merasa perlu cuci mata pakai air doa. "Gue niatnya mau nyari makan siang, eh malah disuguhi 'sosis' mentah. Kagak nafsu makan gue seharian!" ujar salah satu netizen di platform X.


Pramono Anung: "Enggak Ada Maaf Bagi Eksibisionis!"

Kejadian ini sampai ke telinga mantan Sekretaris Kabinet yang kini sedang aktif memantau dinamika Jakarta, Pramono Anung. Dengan gaya khasnya yang tegas namun tetap tenang, Mas Pram (panggilan akrabnya) langsung memberikan "kartu merah".

Beliau menegaskan bahwa Jakarta, meski terbuka untuk turis dari mana saja, bukanlah tempat untuk aksi eksibisionis yang merusak moral dan kenyamanan publik. Pramono meminta pihak kepolisian dan imigrasi bertindak tegas.

"Ini bukan soal sopan santun saja, ini soal harga diri kota kita. Kalau mau pamer, pamer prestasi, jangan pamer yang lain-lain. Hukum berat dan kalau perlu deportasi!"

Mungkin Mas Pram dalam hati juga membatin: Susah-susah kita bangun citra Jakarta sebagai kota global, eh malah dirusak sama satu orang yang lupa pakai sabuk.


Kenapa Sih Harus di Blok M?

Kenapa bukan di tempat sepi? Kenapa harus di pusat keramaian seperti Blok M? Ada beberapa teori (ngawur) yang beredar di tongkrongan:

  1. Saking Estetiknya: Si WNA mungkin merasa Blok M itu sangat vintage dan artistik, sampai-sampai dia merasa dirinya adalah patung Yunani kuno yang sedang berpose. Sayangnya, dia lupa kalau ini Jakarta, bukan Museum Louvre.

  2. Efek Jetlag: Mungkin dia baru mendarat, kurang tidur, dan mengira trotoar Jakarta adalah kamar mandinya sendiri.

  3. Lupa Pakai Celana: Ini teori paling sederhana. Tapi kalau lupa, kenapa harus dipamerin? Itu yang jadi misteri.


Hukuman Berat Menanti: Bukan Sekadar Teguran

Dalam hukum kita, aksi "pamer-pamer" begini masuk ke ranah UU Pornografi dan Pasal 281 KUHP tentang melanggar kesusilaan di depan umum. Ancamannya? Bisa dipenjara, didenda jutaan rupiah, dan yang paling ditakuti WNA: Deportasi plus masuk daftar cekal!

Bayangkan, pulang ke negaranya bukan bawa oleh-oleh gantungan kunci Monas atau batik, tapi bawa surat keterangan "Dilarang Masuk Indonesia karena Pamer Alat Kelamin". Malunya sampai ke tujuh turunan, Bung!


Reaksi Netizen: Dari Hujatan Sampai Komedi

Seperti biasa, netizen Indonesia adalah juara dalam menanggapi hal-hal aneh. Kolom komentar video viral tersebut penuh dengan "mutiara hikmah" yang bikin sakit perut:

  • "Mungkin dia lagi mau pamer kalau sosis di negaranya lebih besar, padahal mah tetep aja kelihatan kecil dibanding harga cabai di pasar."

  • "Halo Pak Polisi, tolong dikasih baju oranye segera. Kasihan dia kedinginan kayaknya sampai dibuka-buka gitu."

  • "Lain kali kalau mau pamer, pamer saldo ATM aja mister. Kita lebih respect."


Pesan Moral: Jagalah 'Aset' Anda

Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua (terutama para pendatang) bahwa "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Indonesia memang ramah, orangnya suka senyum, dan sangat terbuka dengan turis asing. Tapi keramahan itu jangan disalahartikan sebagai izin untuk bertindak semaunya, apalagi sampai pamer aurat di depan umum.

Blok M itu tempat makan enak, tempat dengerin musik bagus, dan tempat belanja barang antik. Jangan ditambah jadi "tempat sirkus alat kelamin".

Langkah Selanjutnya: Jakarta Harus Tetap Aman

Pihak berwenang kabarnya sudah mulai menelusuri identitas WNA tersebut melalui rekaman CCTV. Dengan dukungan dari tokoh seperti Pramono Anung, diharapkan proses hukumnya berjalan cepat agar tidak ada lagi oknum-oknum lain yang berniat melakukan aksi serupa.

Kita ingin Jakarta menjadi kota yang ramah anak, ramah pejalan kaki, dan tentu saja... ramah mata.


Penutup: Mari Kembali ke Ramen!

Mari kita lupakan sejenak bayangan menyeramkan dari WNA tersebut dan kembali fokus pada keindahan Blok M yang sebenarnya. Mari kita dukung ketegasan Mas Pram agar Jakarta tetap kondusif. Dan untuk para WNA di luar sana: Please, keep your pants on!


Apakah Anda punya pendapat tentang bagaimana sebaiknya kita menangani turis nakal seperti ini? Atau mungkin Anda punya rekomendasi tempat ramen enak di Blok M untuk menghilangkan trauma? Mari kita diskusikan!

Posting Komentar untuk "Blok M Bergoyang (Bukan Dangdut): Ketika 'Pusaka' WNA Bikin Geger Jakarta Selatan!"