kisah jamaah haji yang tidak bisa melihat ka bah
Ada sebuah kisah yang membuat hati kita merenung. Seorang jamaah umrah dikabarkan pernah melakukan tawaf di depan Ka’bah, namun ia mengaku tidak bisa melihat Ka’bah sama sekali. Yang ia lihat hanyalah manusia berputar-putar mengelilingi sesuatu yang tidak tampak di matanya. Kisah ini diceritakan dalam sebuah podcast oleh pembimbing umrah dan juga dibahas oleh beberapa narasumber manasik haji. (https://muslim.okezone.com/)
kisah jamaah haji yang tidak bisa melihat ka bah
Peristiwa itu bukan untuk dijadikan bahan sensasi atau menakut-nakuti. Justru kisah seperti ini adalah nasihat besar bagi kita semua: bahwa melihat Ka’bah bukan hanya urusan mata, tetapi juga urusan hati.
Betapa banyak manusia yang matanya sehat, namun hatinya tertutup. Sebaliknya, ada orang yang matanya tidak sempurna, tetapi hatinya sangat dekat kepada Allah.
Ka’bah memang bangunan yang mulia, tetapi inti dari ibadah haji dan umrah bukan sekadar melihat bangunannya. Para ulama menjelaskan bahwa Ka’bah hanyalah arah kiblat, sedangkan tujuan utama seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. (https://muslim.okezone.com/)
Kadang kita terlalu sibuk mengejar “foto depan Ka’bah”, tetapi lupa memperbaiki hati sebelum berangkat ke Tanah Suci. Ada yang sibuk memikirkan oleh-oleh, sibuk memikirkan live media sosial, sibuk memikirkan pengakuan manusia, sampai lupa bahwa perjalanan ke Baitullah adalah perjalanan untuk membersihkan jiwa.
Kisah itu seolah mengingatkan:
“Jangan sampai kaki kita sampai ke Makkah, tetapi hati kita masih tertinggal di dunia.”
Ada orang yang mampu pergi umrah berkali-kali, tetapi masih suka meremehkan orang lain. Masih mudah marah. Masih gemar menipu. Masih suka menyakiti hati sesama. Maka yang perlu diperbaiki bukan jumlah umrahnya, tetapi keikhlasan dan ketakwaannya.
Allah tidak melihat mahalnya paket perjalanan kita. Allah tidak melihat hotel bintang lima yang kita tempati. Allah tidak melihat seberapa dekat posisi kita dengan Ka’bah saat tawaf. Yang Allah lihat adalah hati kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
Karena itu, sebelum berharap melihat Ka’bah dengan mata, mintalah kepada Allah agar diberi kemampuan melihat kebenaran dengan hati.
Banyak orang menangis di depan Ka’bah, tetapi tidak semua air mata lahir dari ketakwaan. Ada yang menangis karena kagum suasana. Ada yang menangis karena terharu melihat bangunan suci. Namun yang paling berharga adalah tangisan karena merasa penuh dosa di hadapan Allah.
Kisah jamaah yang akhirnya bisa melihat Ka’bah setelah beberapa putaran tawaf juga mengandung pelajaran penting: jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. (https://muslim.okezone.com/)
Mungkin selama ini hati kita juga “tidak bisa melihat”. Tidak peka terhadap nasihat. Tidak tersentuh oleh Al-Qur’an. Tidak merasa bersalah saat berbuat dosa. Tetapi selama kita masih mau kembali kepada Allah, pintu taubat tetap terbuka.
Kadang Allah menunda sebuah kenikmatan agar kita lebih banyak berdoa.
Kadang Allah membuat kita menangis agar kita belajar rendah hati.
Dan kadang Allah membuat hati kita gelisah supaya kita sadar bahwa kita sangat membutuhkan-Nya.
Jangan merasa aman hanya karena sering beribadah. Jangan merasa pasti selamat hanya karena sudah pernah haji atau umrah. Yang menentukan kemuliaan seseorang bukan gelarnya, tetapi istiqamahnya.
Tanah Suci bukan tempat wisata rohani untuk pamer status. Tanah Suci adalah tempat seorang hamba menghancurkan kesombongannya.
Saat memakai ihram, semua manusia sama. Tidak ada orang kaya, tidak ada orang miskin. Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat biasa. Semua berdiri sebagai hamba Allah.
Maka jika suatu hari Allah memanggil kita ke Baitullah, jangan hanya siapkan koper dan paspor. Siapkan juga hati yang bersih, lisan yang jujur, dan niat yang ikhlas.
Karena bisa jadi, yang paling dekat dengan Ka’bah belum tentu paling dekat dengan Allah.
Dan bisa jadi, orang yang duduk menangis penuh penyesalan di sudut Masjidil Haram lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang sibuk membanggakan ibadahnya sendiri.

Posting Komentar untuk "kisah jamaah haji yang tidak bisa melihat ka bah"